Header Banner Ads

header ads

Sejarah Malang: Selain Badut-Prasasti Dinoyo, Ini Tujuh Jejak Masyarakat Malang Abad 8

OLEHKHASMALANG - Jejak kehidupan masyarakat masa Hindu-Buddha di Malang pada abad ke-8 tersebar di beberapa lokasi. Sedikitnya ada tujuh situs, selain piagam Dinoyo dan candi Badut yang merupakan jejak paling tua yang pernah ditemukan.

1. Candi Karangbesuki
Dirangkum dari Monografi Sejarah Kota Malang, 1996,  candi Karangbesuki letaknya sekitar 500 meter sebelah utara candi Badut. Lokasinya ada di pemakaman umum Dukuh Gasek Kelurahan Karangbesuki, Sukun, Kota Malang.
situs karangbesuki sukun malang
Kondisi candi Karangbesuki saat ini. (Foto ripibro.blogspotcom)

Ada candi kecil yang kini tinggal alasnya saja. Kondisinya lebih buruk dari peninggalan lainnya di Malang. Penduduk setempat menyebutnya candi Wurung. Ada yang menamakannya candi Karangbesuki. Pihak purbakala menamakannya candi Besuki.

Candi Besuki diperkirakan sezaman dengan candi Badut. Itu bisa dilihat dari langgam arca yang mirip dengan candi Badut, berciri Jawa Tengah tua. Langgam arca itu yakni pola pahat naturalis dan halus, yang merupakan ciri Jawa Tengah tua.

Arca yang dimaksud adalah arca Rsi Agastya (guru) yang biasa menempati relung sebelah selatan candi. Arca Rsi Agastya yang diduga dari candi Besuki dahulu ditempatkan di punden makam, di bawah pohon beringin. Karena pohon beringin roboh terkena angin kencang, arca Rsi Agastya dipindahkan ke SDN Karangbesuki 3.

Ciri-ciri arca Rsi Agastya adalah berkumis, berjanggut runcing, tangan kanan memegang sejenis tasbih, sedangkan tangan kiri memegang kendi. Perutnya selalu digambarkan buncit. Di sebelah kanannya terdapat senjata trisula milik Dewa Siwa. Ia juga memakai tali kasta yang diselempangkan di dada.

Kondisi arca Rsi Agastya dari candi Besuki tangan kirinya putus, tangan kanannya hasil penambalan, dan kedua kakinya putus.

Menurut informasi pada 1950-an, candi Besuki pada tahun itu masih mempunyai dinding setinggi 1,5 meter. Tetapi dinding itu telah  hilang dan yang nampak di lapangan sebuah onggokan batu tak terawat. Dinas Purbakala Jatim pernah membuatkan papan nama bertuliskan Situs Karangbesuki. Bila tulisan itu hilang, maka jejak candi Besuki ikut hilang. Tetapi ternyata tidak. Kini kondisinya terlihat agak terawat.

2. Punden Karuman 
Punden Karuman diperkirakan dahulunya adalah bangunan candi. Letaknya di Jalan Tlogomas Gang VIII Kelurahan Tlogomas, dekat dengan SDN 3 Tlogomas Kota Malang.
Punden seluas sekitar 1.250 meter persegi ini telah diberi pagar kawat berduri. Sisa-sisa peninggalan purbakala di sana adalah sebuah yoni berukuran besar, beberapa lingga kecil, dan arca Lembu Nandi yang kepalanya putus.

Di bawah situs Karuman terdapat sumber air bawah tanah. Sumber air itu digunakan oleh penduduk sekitar.

Apabila mendengar nama Karuman, mengingatkan tentang nama Karuman di kitab Pararaton yang ditulis 1.613 masehi. Karuman adalah daerah tempat Ken Arok dibesarkan oleh seorang penjudi bernama Bango Samparan.

Tetapi, versi tradisi lisan warga setempat, Karuman  berasal dari nama Joko Aruman dari Mataram yang tinggal di daerah itu. Warga dulu menyebutnya Ka-Aruman yang berarti tempat tinggal Aruman. Kata  Ka-Aruman melebur menjadi Karuman.

3. Situs Watu Gong 
Letak situs ini ada di Jalan Kanjuruhan Dukuh Watu Gong, Kelurahan Tlogomas. Di sana dijumpai peninggalan kuno berupa batu besar berbentuk gong, berjumlah 13 buah. Juga ada beberapa arca peninggalan Hindu yang dikumpulkan dari lokasi di sekitar situs.

Menurut  penelitian Dr Willem, batu berbentuk gong itu sama dengan yang tedapat di Bondowoso. Batu itu merupakan umpak atau alas bangunan. Diperkirakan di wilayah sekitarnya dahulu adalah pemukiman kuno.

4. Punden Candri
Lokasinya di Dukuh Candri Kelurahan Merjosari. Penduduk setempat menamakannya Punden Candri. Benda-benda yang dahulu ada di situs ini adalah batu bundar sebanyak 10 buah. Batu itu mirip watu gong tetapi tanpa tonjolan di tengahnya. 


Batu itu telah dipindahkan ke Universitas Gajayana Malang. Karena lokasi aslinya digunakan warga untuk mendirikan bangunan. 

Terkait dengan lokasi Universitas Gajayana, sekitar 1987 pernah ditemukan arca dari perunggu saat penggalian fondasi. Arca ini adalah arca Pantheon agama Budha.

5. Watu Ukel (Makara)
Di dukuh Joyo Sempol, Merjosari, pernah ditemukan dua buah batu besar berbentuk mirip kuda kepang yang disebut Watu Ukel. Dua buah batu ini diangkut oleh seseorang dan dibawa ke luar kota. Tetapi pada saat ini, dua batu Makara ini telah disimpan di Museum Mpu Purwa Kota Malang. Inventaris nomor 90 dan 91.
makara
Makara sebenarnya sebutan dari sebuah ornamentasi atau ragam hias Hindu yang menggambarkan hewan ajaib di dalam mitologi Hindu. (foto: museum mpu purwa)
Batu ini diduga fragmen bangunan, yakni jorokan pipi tangga sebuah bangunan. Motif batu berbentuk mirip kuda kepang ini adalah Makara dengan seekor singa di dalam mulutnya. Langgam seninya mendekati zaman kerajaan di Jawa Tengah abad ke-8.

Batu itu mirip dengan batu Makara yang pernah menghiasi gedung PAKRI Jalan Pahlawan Trip Kota Malang. Apakah itu adalah batu yang sama? sampai saat ini belum ada keterangan tentang itu.

Sementara keterangan dari Museum Mpu Purwa, Makara sebenarnya sebutan dari sebuah ornamentasi atau ragam hias Hindu yang menggambarkan hewan ajaib di dalam mitologi Hindu. Dalam mitologi India disebutkan adanya hewan ajaib yang mempunyai badan seekor ikan dengan kepala seekor gajah. Dalam kesenian Hindu-Jawa dikenal istilah Gajamina.

Motif hiasan Makara di Indonesia banyak digunakan sebagai hiasan ambang pintu percandian serta jorokan pipi tangga masuk. Namun perlu diketahui bahwa hiasan makara ini di Indonesia berkembang pesat dari abad VIII sampai abad X Masehi. Pada abad-abad berikutnya hiasan dengan motif makara ini telah diganti dengan kepala naga.

Motif makara tetap bertahan pada ornamen yang berhubungan dengan patirthan, dan berfungsi sebagai jaladwara atau pancuran air. Penduduk setempat waktu itu menyebut watu ukel atau watu jaran kepang manten. 

6. Lingga Yoni di Jalan MT Haryono 
Di sekitar Jalan MT Haryono Kota Malang dahulu banyak ditemukan peninggalan purbakala. Di SDN Dinoyo 4 terdapat tiga buah yoni berukuran besar dan kecil. Yoni sering disebut juga batu lumpang karena ada cekungan dalam di bagian tengah.

Di areal Universitas Islam Malang dahulu juga pernah ditemukan beberapa yoni yang terserak. Bahkan sebuah lingga besar tertanam di tepi Jalan MT Haryono, sebelah tenggara terminal Dinoyo. Lokasi terminal Dinoyo dahulu ada di Pasar Dinoyo yang kini sudah menjadi mal.

7. Peninggalan Purbakala di Jalan Watu Gong 
Di Kelurahan Ketawanggede, tepatnya di Jalan Watu Gong, ada beberapa fragmen bangunan kuno. Yakni batu-batu mirip gong berukuran kecil. Lalu ada antefik (hiasan pada atap percandian). Juga ada jorokan pipi tangga dan arca Ganesha yang rusak. Benda-benda itu diamankan di halaman Gedung PKK RW setempat.