Header Banner Ads

header ads

Sari Apel Brosem: Jadi Langganan SBY, Dimiliki Ratusan Warga Satu RW

OLEHKHASMALANG - Home industri Sari Apel Brosem dirintis masyarakat Jalan Bromo dan Jalan Semeru Kelurahan Sisir  Kota Batu semenjak 2005. Karena rasanya yang alami, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudoyono (SBY) sempat menjadi pelanggan setianya.
Lokasi industri rumahan ini ada di Jalan Bromo No 7 Kelurahan Sisir Kecamatan Batu. Setiap hari, puluhan perempuan menjalankan kegiatan produksi.


Ir Riyanto menjadi manajer dari pembuatan minuman sari apel Brosem. Usaha tersebut telah digeluti masyarakat Jalan Bromo dan Jalan Semeru semenjak 2005. Usaha kecil mandiri tersebut juga milik masyarakat dan dikelola secara profesional berbasis masyarakat. 
sari apel brosem kota batu
Brosem kemasan cup 120 mililiter

Kepemilikan masyarakat diwakili dengan saham. Jadi usaha tersebut bukan dimiliki satu atau dua orang saja. Namun dimiliki ratusan warga RW 10 Kelurahan Sisir.  

Menurut Riyanto, ide menggunakan saham sebagai bukti ikut memiliki sebuah usaha kecil menengah terinspirasi pengalaman kerjanya di perusahaan.  

Alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tahun 1990 jurusan teknik mesin ini sempat bekerja di PT Kyotronics Matshusita selama 3 tahun. Setelah itu ia pindah bekerja di PT Epson Batam sebagai asisten manager selama 4 tahun. 

Karena ingin meneruskan usaha orang tua sebagai perajin tahu, Riyanto pulang ke Batu pada 2002. 

Di sela kesibukannya menjalankan usaha pabrik tahu milik ayahnya, Riyanto punya ide memberdayakan masyarakat sekitar. Ide itu tercetus setelah rapat warga RW 10 yang menginginkan ada usaha untuk mengangkat derajat kehidupan masyarakat. Mendapat dukungan dari masyarakat, tahun 2005 usaha sari apel mulai dibangun. 

Butuh satu tahun untuk menciptakan rasa yang khas. Waktu itu warga bisa membuat 10 kardus dengan isi 24 gelas @200 mililiter. 

Pengurus Brosem, termasuk Riyanto, lalu merangkul warga RW 10 agar mau membeli sari apel Brosem. Mereka pun diminta agar memberikan komentar dan saran sari apel yang diproduksi. 

Dari situ Riyanto dan pengurus bisa menemukan kelemahan. Akhirnya dalam waktu satu tahun, Brosem punya ciri khas. Yakni rasa yang mirip dengan apel dan segar. 

Pada 2005, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono datang ke Kota Batu. SBY pun sempat meminum sari apel Brosem saat pameran produk usaha warga. Mengetahui usaha itu berbasis masyarakat, SBY pun memberi bantuan Rp 125 juta. 

Setelah itu, ternyata SBY ketagihan. Riyanto mengaku sudah empat kali datang ke istana untuk mengirim pesanan paket sari apel. "Itu atas permintaan SBY langsung,” kata Riyanto. 

Banjir pesanan pun datang usai "dipromosikan" istana. Uang bantuan dari presiden ke-6 itu untuk menyewa rumah produksi, mobil, dan alat produksi. Awalnya uang itu mau dibagi ke warga, tapi khawatir habis seketika.

Karena permintaan makin banyak dan butuh modal lebih besar, akhirnya Riyanto rapat dengan warga. Saat itulah tercetus penggunaan saham bagi warga yang membantu pendanaan usaha Brosem. 

Warga bertanya-tanya mengenai saham saat itu karena tak mengerti. Saat itu, pengurus menjelaskan jika warga investasi di bank hanya dapat keuntungan 7-12 persen.

Bila investasi di Brosem, bisa dapat 30 persen karena usahanya dengan saham. Awalnya aturannya seperti itu. Satu lembar saham dijual Rp 10 ribu.

Tapi antusias warga masih minim. Uang yang terkumpul hanya Rp 5 juta. Pada mulanya mengalami kerugian. Tetapi lama kelamaan mulai memberikan keuntungan.

Pada 2006 sampai pertengahan 2007, tak ada keuntungan dari usaha kelompok tani ini. Pada 2007 pengurus mengubah usaha pertanian menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU). Langkah ini dilakukan agar makin banyak yang investasi.

Perjuangan Riyanto dan pengurus tak sia-sia. Akhirnya tahun 2008 usaha Brosem mulai mencetak laba. Warga pun bisa menikmati hasilnya. 

Brosem pun terus berkembang. Pemerintah pusat bahkan memberikan bantuan dana yang kemudian dibelikan mesin produksi. 

Telkom juga memberikan pinjaman lunak Rp 250 juta. Dana ini digunakan untuk membeli lahan di Jalan Rraya Bromo untuk toko. Lalu membeli rumah untuk produksi. Sebelumnya mereka sewa. Usaha Brosem pun mampu memproduksi 600 kardus dalam sehari.

Riyanto dan manajemen Brosem kembali memanfaatkan saham untuk memajukan KSU Brosem pada 2010. Mereka merilis saham baru 20.000 lembar. Setelah dijual, mereka mendapatkan Rp 200 juta.

Keuntungan pun semakin meningkat pada musim liburan. Pada 2013 lalu sempat membukukan keuntungan Rp 173 juta. Diperkirakan aset Brosem pun telah bernilai lebih dari Rp 800 juta. (*)