Header Banner Ads

header ads

Sejarah Malang: Prasasti Dinoyo, Masih Bukti Tertua Aktivitas Manusia di Malang

OLEHKHASMALANG – Kehidupan dan aktivitas manusia di daerah Malang diduga telah ada semenjak pra sejarah, ribuan tahun lalu. Tetapi, cerita secara otentik, berdasarkan catatan tertulis, untuk sementara dibuktikan mulai abad ke-8 masehi (abad ke-1 tahun 1-100; abad ke-2 tahun 101-200; abad ke-8 tahun 701-800; dst).
Human life and activity in Malang area existed since pre-history thousands of years ago. However, the authentic story based on a written record, provisionally proven from the 8th century AD (1st century 1-100, 2nd century 101-200, 8th century 701-800, etc.).

Bukti tertua yang telah ditemukan terkait aktivitas manusia di Malang adalah Piagam Dinoyo atau prasasti Dinoyo. Prasasti ini berangka tahun 760 Masehi, atau 682 Saka. Masa ini termasuk masa Hindu-Buddha.

Tulisan dalam prasasti Dinoyo menggunakan huruf Jawa kuno dan berbahasa Sanskerta. Prasasti Dinoyo tidak ditemukan utuh. Tetapi ditemukan dalam kondisi pecah, bagian demi bagian. Ada tiga bagian terpisah yang ditemukan.

Bagian paling besar ditemukan di Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang (dulu Desa Dinoyo). Sedangkan dua bagian lainnya ditemukan di Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang (dulu Desa Merjosari).

Saat ini, keberadaan prasasti Dinoyo disimpan di Museum Nasional Jakarta. Kondisinya relatif terawat karena menjadi tanggungjawab Direktorat Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Wujud Prasasti Dinoyo yang diambil dari perpustakaan Universitas Leiden Belanda. (Foto: situsbudaya.id)
Prasasti ini, secara garis besar, menceritakan bahwa ada raja yang sangat bijaksana dan sakti bernama Dewa Simha. Keratonnya disucikan oleh sang Putikecwara, alias api Dewa Siwa.

Dewa Simha mempunyai putra bernama Limwa. Setelah memegang kekuasaan pemerintaan, putra Limwa bergelar atau bernama Gajayana. Raja Gajayana menjaga keraton/kerajaan ayahnya yang besar bernama Kanjuruhan.

Lalu Raja Gajayana mempunyai putri bernama Utteyana. Pada hari Jumat tanggal 21 November 760 Masehi, Raja Gajayana bersama para brahmana dan rakyatnya meresmikan arca Rsi Agastya.

Bentuk sebenarnya dari arca Rsi Agastya yang diresmikan Gajayana ini belum ditemukan. Tetapi sebagai gambaran saja, arca Rsi Agastya yang diyakini masyarakat Hindu seperti gambar di bawah ini.
Bentuk arca Agastya (tengah) yang diyakini masyarakat Hindu (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Arca Rsi Agastya yang diresmikan Gajayana itu dibuat dari batu hitam yang indah. Pembuatannya disertai bangunan khusus untuk memuliakan sang Rsi Agastya.

Dalam rangkaian acara peresmian itu, Raja Gajayana juga menghadiahi para brahmana berbagai macam pemenuhan kebutuhan untuk upacara, serta rumah yang besar untuk para brahmana tamu.

Masih dari daerah Dinoyo, ada prasasti lain yang juga berusia tua yang ditemukan pada 1984. Prasasti ditemukan di tepi Jalan Mayjen Haryono sewaktu ada pekerja yang tengah menggali galian kabel telepon.

Batu itu pecah berkeping-keping karena terkena pukulan palu orang yang menggali saluran kabel itu.

Isi dari prasasti itu belum bisa seutuhnya ditafsirkan. Selain aus, juga rusak karena pecah berkeping-keping.

Prasasti ini sering disebut sebagai prasasti Dinoyo 2. Juga disebut sebagai prasasti Dang Hwan Hiwil bertarikh 773 Saka atau 851 Masehi.

Batu prasasti ini awalnya disimpan di Kantor Suaka Purbakala Trowulan Mojokerto lalu dipindahkan ke Museum Mpu Purwa Kota Malang, Jalan Soekarno Hatta Kota Malang.
Prasasti Dinoyo 2 atau disebut prasasti Dang Hwan Hiwil bertarikh 773 Saka atau 851 Masehi. (Foto: museumindonesia.com)

Terjemahan prasasti Dinoyo menurut Prof Dr Poerbatjaraka seperti yang ditulis dalam Suwardono dan S. Rosmiayah. Monografi Kota Malang. 1996.

Selamat Tahun Saka 682 yang telah berlalu
  1.  Ada seorang raja bijaksana dan sangat sakti, sang Dewa Simha namanya. Ia menjaga keratonnya yang berkilau-kilauan disucikan oleh api Putikecwara (yaitu sang Siwa).
  2. Anaknya ialah sang Liswa namanya, yang juga terkenal dengan nama sang Gajayana. Setelah ramanda pulang kembali ke swarga, maka sang Liswa lah yang menjaga keratonnya yang besar, bernama Kanjuruhan.
  3. Sang Liswa berputera seorang putri, yang oleh ramanda raja diberi nama Utteyana, seorang kerajaan yang akan meneruskan kuluwarga ramanda yang bijaksana itu.
  4. Raja Gajayana yang memberikan ketentraman kepada sekalian para brahmana dan dicintai oleh rakyatnya, bhakti kepada yang mulia Agastya. Dengan sekalian pembesar negeri dan penduduknya, ia membuat tempat (candi) yang sangat bagus bagi sang maharesi (Agastya) untuk membinasakan penyakit yang menghilangkan (semangat).
  5. Setelah ia melihat arca Agastya yang dibuat dari kayu cendana oleh nenek moyangnda, maka raja yang murah hati dan pecinta kemashuran ini memerintah kepada pelukis yang pandai untuk membuat arca Agastya dari batu hitam yang elok, supaya ia selalu dapat melihatnya.
  6. Atas perintah raja yang sangat teguh budinya ini, maka arca Agastya yang juga bernama Kumbhayonih didirikan (dengan upacara dan selamatan) oleh para ahli rigweda, para ahli weda lain-lainnya, para brahmana besar, para pendeta yang terkemuka dan para penduduk negeri yang ahli kepandaian lain-lainnya pada tahun 682 (nayana=2, vayu=8, rase=6) saka bulan margasira, hari jumat tanggal satu paro petang.
  7. Dihadiahkan pula oleh raja sebagian tanah dengan sapi yang gemuk-gemuk serta sejumlah kerbau dengan beberapa budak lelaki dan perempuan, dan segala keperluan hidup para pendeta yang terkemuka seperti sabun, pemandian, bahan untuk selamatan dan saji-sajian, juga sebuah rumah besar yang sangat penuh (perabot) untuk penghinepan para brahmana tetamu dengan disediakan pakaian, tempat tidur, padi, jewawut dan lain-lainnya.
  8. Manakala ada keluarga kerajaan atau anak raja dan sekalian para pembesar negeri bermaksud melanggar atau berbuat jahat, berdosa tidak mengindahkan (peraturan) hadiah sang raja ini, moga-moga mereka jatuh ke dalam neraka, janganlah mereka mendapat nasib yang mulia, baik dalan akhirat maupun dalam dunia.
  9. (Sebaliknya) manakala keluarga raja yang senang akan terkembangnya hadiah itu, mengindahkan dengan pikiran suci, melakuan penghormatan kepada para brahmana dan bertabiat ibadah, maka karena berkat keselamatan, kebaikan dan kemurahan itu haraplah mereka menjaga kerajaan yang tidak ada bandingnya ini seperti sang raja menjaganya. (*)