Header Banner Ads

header ads

Soekidjan, Perajin Alat Bantu bagi Orang Cacat


Sebelah Kiri 35, Yang Kanan 42


Keterampilan yang dimiliki Soekidjan tergolong langka. Untuk skala Malang Raya, dia bisa dikatakan satu-satunya perajin alat-alat bantu bagi orang cacat. Dokter ortopedi atau ahli bedah tulang menjadi pelanggan tetap mantan perajin sepatu tentara ini.

Sabtu 29 November 2008 di ruang kerja berukuran 2 x 3 meter, sebuah extension brace tengah digarap Soekidjan usai beberapa hari istirahat karena sakit flu. ”Mari leren pirang-pirang dino (habis istirahat beberapa hari). Pilek,” ungkap Soekidjan di rumahnya Jalan Karya Timur I/25G. Tangannya sibuk menata letak dan memaku sabuk kulit yang melingkar tiga buah.

Extension brace adalah sebuah alat untuk penguat kaki yang tidak normal. Terbuat dari besi dua buah yang dilengkapi tiga sabuk berbahan kulit. Bentuknya seperti kaki robot dengan ujung dilengkapi wadah telapak kaki, mirip sandal. Kebetulan yang tengah dia garap adalah pesanan seorang mahasiswi yang mengalami kelainan pada kakinya.

”Ini bisa untuk berjalan. Sering digunakan oleh seseorang yang kakinya kurang normal. Misalnya kecil sebelah atau bengkok,” katanya seraya mengambil extension brace lainnya dengan ukuran yang lebih kecil. ”Kalau ini untuk anak-anak. Semuanya pesanan. Saya tidak nyetok,” kata kakek 68 tahun ini.


Soekidjan adalah perajin alat-alat ortopedi langganan para dokter tulang di Malang dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur. Semenjak 1971, enam jenis alat orthopedi biasa dibuatnya. Yaitu kaki dan tangan palsu (prothese), segala macam korset, extension brace, sepatu terapi, dan collar corset (penyangga leher). ”Sudah ratusan buah saya buat. Tak ingat dengan pasti jumlahnya. Maklum, manajemennya tradisional,” ungkap bapak asli Tulungagung itu.

Menjadi perajin alat bantu jalan dimulai saat dia bosan dengan bekerja membuat sepatu orang normal. Puluhan tahun lalu, dia kenal dengan staf Irna 2 RSSA bernama Subagio. Sebagai perajin sepatu yang ahli, Soekidjan ditawari keterampilan membuat alat bantu berjalan penderita cacat. Selama dua tahun, dia ”kursus” di YPAC (yayasan pendidikan anak cacat). Semenjak itulah, dia mengerjakan berbagai macam alat bantu jalan bagi orang cacat..

Selama ini, Soekidjan membuat alat berdasarkan pesanan dokter RSSA. Dokter yang sering menggunakan jasanya adalah dr Tjuk Sugiarto, dr H Ridwan dan beberapa dokter di YPAC. Selain itu, mantan staf Irna 2 RSSA Subagio yang kini telah pensiun.

Para dokter itu memberikan semacam resep bagi pasien cacat anggota badan. Resep itu berupa penggunaan alat terapi bagi pasien. Sering pasien datang langsung ke rumah Soekidjan untuk memesan. Pasien harus datang lagsung karena menyangkut ukuran. Namun, ada kalanya Soekidjan dipanggil ke tempat praktik dokter untuk mengukur. Biasanya bagi pasien-pasien khusus. ”Pasien yang direkomendasikan ke saya asalnya dari mana-mana. Selain Malang, ada dari Jember, Madura, Surabaya, Tulungagung,” ungkap bapak enam putra ini.

Soal harga, Soekidjan sulit menyebutkannya. Sebab, masing-masing pasien berbeda ukuran dan bentuk yang memengaruhi perbedaan harga. Yang pasti, harga yang dipatok cukup terjangkau. Misalnya, kaki palsu dari kayu bisa sekitar Rp 1 juta. ”Itu tergantung ukuran dan kerumitan. Kulitnya saat ini juga mahal,” katanya.

Banyak pengalaman menarik menggeluti perajin alat ortopedi selama 37 tahun itu. Salah satu yang paling diingatnya adalah membuat sepasang sepatu yang ketinggiannya berbeda 20 sentimeter. Sepatu model itu dibuat karena perbedaan panjang kaki kiri dan kanan berbeda 20 sentimeter. Saat tidak menggunakan sepatu buatannya, jalan pasien pincang. Setelah menggunakan sepatu buatannya, jalan si pasien itu pun terlihat normal.

Pernah juga Soekidjan membuat sepasang sepatu dengan ukuran yang jauh berbeda. Sebelah kiri ukuran 35, sebelah kanan 42. Sepatu berbeda ukuran itu memang diperuntukkan bagi penderita cacat yang kakinya besar sebelah. Biasanya, dia menyarankan untuk menyeragamkan ukuran menjadi 42 dengan cara memasukkan spon ke dalam sepatu untuk kaki yang kecil. ”Kalau sudah dimasukkan ke celana, kan tidak kelihatan kalau kakinya cacat,” kata mantan perajin sepatu personel TNI AL ini.

Yang juga cukup mengesankan adalah membuat sepatu terapi untuk kaki bayi yang bengkok, berbentuk X atau O. Dengan sepatu terapi, diharapkan kakinya menjadi normal ketika besar. Sepatu terapi itu ukurannya mungil dan njlimet karenna harus benar-benar pas untuk kaki bayi. ”Banyak sekali saya bikin sepatu terapi untuk bayi. Kadang pas ngukur juga kasihan,” ungkapnya.

Resep Soekidjan agar dekat dengan pelanggan adalah mengedepankan kekeluargaan. Diakuinya, penderita cacat atau tunadaksa banyak yang terkendala psikologi. Dengan bersikap seperti keluarga dan memberikan sedikit motivasi, para pelangannya bisa terbuka dan nyaman menggunakan produknya. ”Ada yang balik lagi ke sini untuk memperbarui atau mereparasi. Mereka kami anggap sebagai keluarga,” katanya. (*)