Header Banner Ads

header ads

Keluarga Sumiarsih Tak Hadiri Pemakaman


MALANG – Selesai sudah drama kehidupan Sumiarsih dan Sugeng, pelaku pembunuhan Letkol (Mar) Purwanto dan empat orang keluarganya, 13 Agustus 1988 silam. Pasangan ibu-anak itu dimakamkan berdampingan di TPU Samaan, Kota Malang, Sabtu (19/7) pagi. Makam berdampingan itu sesuai dengan wasiat Sumiarsih kepada anaknya, Rusmawati dan Pdt Andreas Nurmandala, salah seorang pembimbing rohani Sumiarsih.

Iring-iringan dua mobil jenazah dari RSU dr Soetomo Surabaya tiba di Kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Samaan sekitar pukul 05.25. Mobil jenazah jenis Kijang nopol L 8065 AP mengangkut jenazah Sugeng. Jenazahnya telah dimasukkan ke peti kayu cokelat biasa. Sugeng yang beragama Islam mendapat peti tanpa ornamen.

Kemudian ambulans Kijang nopol L 8007 QP mengangkut jenazah Sumiarsih. Perempuan kelahiran Jombang itu ditempatkan dalam peti kayu cokelat berselimut kain putih dengan tanda salib merah.

Pemakaman keduanya dilakukan secara bergantian. Pukul 05.30 peti jenazah Sugeng digotong terlebih dahulu menuju liang lahat yang digali sehari sebelumnya. Jarak antara pemberhentian kendaraan dengan liang kubur sekitar 75 meter. Cuaca sedikit mendung dan sinar matahari yang mulai muncul belum bisa menerangi kawasan TPU seluas 10 hektare itu.

Sugeng dimasukkan ke liang sisi timur dari dua liang yang bersebelahan. Sebelum ditimbun tanah, tutup peti dibuka untuk memalingkan posisi jenazah ke arah barat (kiblat). Termasuk menata kembali jenazah yang telah dikafani itu.

Upacara pemakaman Sumiarsih dan Sugeng diikuti sedikitnya 70 orang. Sekitar 20 orang yang hadir adalah wartawan dan pekerja pers. Sisanya adalah jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI), rombongan pengiring jenazah, warga sekitar, aparat Kejaksaan Negeri Kota Malang, dan beberapa pegawai Lembaga Pemasyarakatan Wanita Sukun, Malang.

Rusmawati tidak terlihat dalam rombongan pelayat. Menurut beberapa jemaat GBI, Wati minta diantar pulang ke Siloam, Jalan Bendungan Sigura-gura, Kota Malang. Mungkin Wati masih shock sekaligus kecapekan. Hanya Felicia, teman dekat Sugeng, tampak hadir dengan wajah sembab.

Prosesi pemakaman Sugeng dipimpin M. Syafik, Sekjen Forum Kerukunan Antarumat Beragama (FKAUB) Kota Malang. Syafik diminta datang memimpin proses pemakaman Islam.

Suara azan dan kalimat tahlil berkumandang saat pemakaman Sugeng. Para pelayat yang beragama Islam mengamini doa yang dibacakan Syafik.

Pukul 05.45 giliran peti jenazah Sumiarsih digotong dari ambulans. Sebelum diturunkan ke dalam lubang, peti dibuka dan digelar doa. Doa dipimpin Pdt Gatot dan Pdt Yani Lim (gembala Sumiarsih). Yani Lim adalah pembimbing Sumiarsih sebelumnya yang baru dua hari tiba dari Kanada.

Nenek satu cucu itu mengenakan pakaian putih-putih. Kain transparan menutupi wajahnya yang dirias lengkap dengan lipstik. Selimut putih bergambar salib merah ditutupkan pada perut hingga kaki. Usai doa pertama, peti ditutup.

Sebelum diturunkan ke liang lahat, digelar kebaktian pemakaman yang dipimpin Pdt Yani Lim dan dilanjutkan Pdt Gatot. Kalimat Haleluya dan Puji Tuhan didengungkan para jemaat GBI. Dalam kebaktian itu, Yani juga mengajak jemaat mengumandangkan lagu pujian Allah Kuasa. Pujian itu, kata Yani, adalah kesukaan Sumiarsih.

Yani juga mengutarakan pesan terakhir Sumiarsih kepadanya. "Hidup ini sementara dan singkat. Setiap kita harus senantiasa siap. Datangnya kematian seperti pencuri yang tidak bisa diduga," ungkap pendeta perempuan itu menirukan ucapan Sumiarsih.

Sekitar pukul 06.45 peti jenazah Sumiarsih pun dikebumikan. Nisan salib bertulisan "Sumiarsih" dengan spidol biru tertancap di pusaranya. Begitu pula di atas pusara Sugeng, ditancapkan nisan berbentuk kubah dengan tulisan "Sugeng", juga dengan spidol biru. Bunga beraneka warna dan harum ditabur di atas kedua pusara. (yosi arbianto)